Jihad Bersama Penguasa

Rabu, 02 Maret 2005 - 05:08:29,

Penulis : Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi Al Atsari, Lc



Jihad secara etimologis (bahasa) bermakna kesulitan atau kemampuan. Sedangkan secara terminologis (istilah) bermakna mengerahkan segenap kemampuan di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dalam rangka meninggikan kalimat-Nya, membela agama-Nya, memerangi musuh-musuh-Nya, dan juga dalam rangka mencegah kedzaliman, pelanggaran, dan kejahatan seseorang.
Makna jihad lebih luas dari sekedar bertempur atau perang. Bahkan ia mencakup jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan orang-orang kafir dan seluruh musuh Islam, serta jihad melawan kemungkaran dan sejenisnya. Sebagaimana pula jihad dapat dilakukan dengan jiwa, harta, lisan, dan lainnya.(Al-Jihad Al-Islami Wal Isti’anah bighairil Muslimin Fii Muwaajahatil ‘Aduw, Bayan Al-Majma’ Al-Fiqhil Islami, Makkah Al-Mukarramah).
Namun jihad sering disalahartikan. Terkadang ia diidentikkan dengan segala tindak anarkhis dan teror, sebagaimana yang diopinikan oleh orang-orang kafir dan antek-anteknya. Terkadang pula dipahami secara radikal, sehingga identik dengan memerangi setiap orang kafir (tanpa kecuali) dan memerangi setiap penguasa yang berbuat dzalim, sebagaimana diyakini oleh orang-orang yang berafiliasi kepada paham sesat Khawarij. Sehingga tidak jarang mereka meyakini dan menamakan tindakan anarkhis dan teror yang mereka lakukan sebagai jihad.
Inilah yang menyebabkan kian rancunya definisi jihad yang syar’i, padahal jihad itu sendiri merupakan amalan mulia lagi suci. Jihad dalam Islam bersih dari tindakan anarkhis dan melampaui batas, tidak diperbolehkan membunuh orang kafir mu’ahad (orang kafir yang terikat perjanjian untuk tidak saling memerangi), kafir musta’min (orang kafir yang mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin), serta para wanita dan anak-anak (kecuali mereka terbukti turut berpartisipasi memerangi kaum muslimin).
Bahkan adanya syariat jihad ini sebenarnya untuk meniadakan fitnah, mewujudkan ketenangan dan kedamaian di dunia, dan supaya agama (ibadah) ini semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama ini semata-mata untuk Allah.” (Al-Anfal: 39)
Oleh karena itulah, syariat jihad sudah ada sejak dahulu kala di dalam agama para nabi sebelum Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَكَأَيِّن مِّنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيْرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَمَاضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

“Dan berapa banyak nabi yang berperang, bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka (dalam perjuangan) di jalan Allah, tidak lesu, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)

Peran Penguasa dalam Jihad
Jihad merupakan amalan besar yang membutuhkan persiapan dan kebersamaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِه عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِيْنَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللهُ يَعْلَمُهُمْ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya sedang Allah mengetahuinya.” (Al-Anfal: 60)

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيْلِهِ صَفاًّ كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff : 4)
Dengan demikian syariat jihad tidak mungkin terlaksana tanpa ada seorang pemimpin, sebagaimana layaknya shalat berjamaah. Namun siapakah pemimpin syar’i dalam urusan jihad tersebut? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Oleh karena itu, Sunnah Rasulullah, (Sunnah) Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, dan (Sunnah) para penguasa yang mengikuti jejak mereka pada Daulah Umawiyyah dan Abbasiyyah, menunjukkan bahwa penguasalah yang bertindak sebagai pemimpin dalam dua amalan prinsip ini: shalat dan jihad.” (Majmu’ Fatawa, juz 35 hal. 38)
Sehingga peran penguasa dalam urusan jihad sangatlah besar. Tidaklah aneh bila shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu berkata: “Urusan kaum muslimin tidaklah stabil tanpa ada penguasa, yang baik atau yang jahat sekalipun.” Orang-orang berkata: “Wahai Amirul Mukminin, kalau penguasa yang baik kami bisa menerimanya, lalu bagaimana dengan penguasa yang jahat?” ‘Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya (walaupun) penguasa itu jahat namun Allah tetap memerankannya sebagai pengawas keamanan di jalan-jalan, dan pemimpin dalam jihad…” (Syu’abul Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah juz 13, hal.187, dinukil dari kitab Mu’amalatul Hukkam, karya Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas rahimahullah hal.57)

Sikap terhadap Penguasa dalam Urusan Jihad
Setelah kita mengetahui betapa pentingnya peran penguasa dalam urusan jihad, lalu bagaimanakah sikap kita bila penguasa mengumandangkan seruan jihad fi sabilillah?
Para pembaca, siapa pun yang merujuk kepada Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta teladan para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, pasti meyakini bahwa jihad fi sabilillah adalah amalan mulia dan tergolong sebagai amalan ma’ruf (kebaikan) bukan kemaksiatan. Kecuali sudut pandang kelompok-kelompok sesat semacam Ahmadiyyah (Qadiyaniyyah) yang “mengubur” syariat jihad. Ataupun Jamaah Tabligh yang menyelewengkan makna jihad menjadi khuruj (‘dakwah’ keliling selama 3 hari, 7 hari, dst) ala mereka. Karenanya, bila penguasa mengumandangkan seruan jihad fii sabilillah, wajib didengar dan ditaati. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيَّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا أَطِيْعُواللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kalian” (An-Nisa: 59)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan untuk ditaati dari para penguasa dan pemimpin. Inilah pendapat mayoritas ulama dulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan ahli fiqih serta yang lainnya.”(Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal.222)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَىاللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي

“Barangsiapa yang menaatiku maka telah menaati Allah, barangsiapa menentangku maka telah menentang Allah, barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku maka telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku maka telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu)
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang wajibnya menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kesatuan (kaum muslimin), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13 hal. 120)
Mungkin ada yang mengatakan: “Itu berlaku kalau penguasanya seorang yang baik, adapun yang diktator dan koruptor yang mendzalimi dan makan uang rakyat, atau sejenisnya, tidak ada ketaatan baginya walaupun dalam perkara-perkara yang ma’ruf (termasuk jihad), bahkan wajib memberontak dan menggulingkannya.”
Para pembaca, sesungguhnya konsep pemikiran semacam ini merupakan lagu lama yang didendangkan oleh kelompok-kelompok sesat semacam Khawarij dan Mu’tazilah. Yang kemudian dipegangi orang-orang yang berangan-angan mendirikan negara (khilafah) Islam tanpa mengerti dan memahami bimbingan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam perkara tersebut.
Cobalah perhatikan pernyataan-pernyataan berikut ini:
1. Pernyataan Abul A’la Al-Maududi: “Mudah-mudahan sudah tergambar bagi kalian dari tulisan-tulisan dan risalah kami, bahwa puncak terakhir yang kami inginkan di balik perjuangan selama ini adalah mewujudkan kudeta atau penggulingan terhadap penguasa. Dalam artian, target keberhasilan kita di dunia adalah membersihkan bumi ini dari noda-noda kepemimpinan para penguasa yang fasiq lagi jahat, kemudian membentuk kepemimpinan yang baik lagi terbimbing. Upaya dan perjuangan yang terus menerus ini kami pandang sebagai langkah yang paling berhasil untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengharap wajah-Nya yang mulia di dunia dan akhirat.” (Al-Usus Al-Akhlaqiyah Lil Harakah Al-Islamiyyah, hal. 16, dinukil dari kitab Manhajul Anbiya, karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidzahullah hal. 139)
2. Pernyataan Sayyid Quthb: “Mudah-mudahan telah jelas bagimu apa yang kami sebutkan tadi, bahwa tujuan jihad dalam Islam adalah menghancurkan bangunan undang-undang yang bertentangan dengan dasar-dasar Islam dan mendirikan pemerintahan yang berasaskan Islam yang sekaligus sebagai penggantinya. Untuk mewujudkan program yang sangat penting ini, mengharuskan adanya kudeta Islami secara total yang tidak terkungkung pada negeri tertentu saja. Bahkan Islam menghendaki adanya kudeta secara menyeluruh di penjuru dunia ini.”(Fii Zhilalil Qur’an juz.3, hal. 1451, cet.ke-5, dinukil dari Fitnatut Takfir Wal Hakimiyyah, hal. 105)
Para pembaca, demikianlah dua pernyataan dari sekian banyak pernyataan yang berafiliasi kepada paham sesat Khawarij. Suatu pernyataan batil yang bertentangan dengan dalil-dalil naqli maupun aqli.
Di antara dalil-dalil naqli itu adalah:
1. Shahabat ‘Adi bin Hatim radhiallahu 'anhu berkata:

يَارَسُولَ اللهِ! لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ-فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوْا.

“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan terhadap pemimpin yang bertakwa. Namun yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap pemimpin yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekan pemimpin). Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ‘Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (pemimpin tersebut).”(HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitabus Sunnah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)
2. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَكُونُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهمْ رِجَالٌ، قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ): قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!

“Akan ada sepeninggalku para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/ jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati syaithan dalam bentuk manusia.” Hudzaifah berkata : “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas, maka (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiallahu 'anhu, 3/1476, no. 1847)
3. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian! Jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang kalian tidak sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik radhiallahu 'anhu, 3/1481, no. 1855)
Adapun dalil-dalil aqli, maka di antaranya adalah:
1. Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku meski mereka berbuat jahat. Karena membangkang (tidak menaati) mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari kejahatan mereka. Dan justru di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka terdapat ampunan dari dosa-dosa dan pahala yang berlipat.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 368)
2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Oleh karena itu, di antara yang masyhur dari prinsip Ahlus Sunnah adalah tidak boleh membangkang terhadap para penguasa dan tidak boleh memerangi mereka dengan senjata walaupun mereka berbuat dzalim, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits nabi yang shahih lagi banyak jumlahnya. Hal itu karena kerusakan yang terdapat dalam pertempuran dan fitnah lebih besar dibandingkan kerusakan yang diakibatkan oleh kedzaliman penguasa sebelum adanya pertempuran dan fitnah tersebut…., dan hampir-hampir tidak ada satu kelompok pun yang memberontak terhadap penguasa kecuali kerusakan yang diakibatkan lebih besar dari kerusakan yang semula ingin dihilangkannya.” (Minhajus Sunnah, juz 3,hal. 391)
3. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar dengan pengingkaran tersebut, terwujud suatu kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jika ingkarul mungkar mengakibatkan terjadinya kemungkaran yang lebih besar darinya dan lebih dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka tidak boleh dilakukan walaupun Allah Subhanahu wa Ta'ala membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya. Hal ini seperti pengingkaran terhadap para raja dan penguasa dengan cara memberontak. Sungguh yang demikian itu sumber segala kejahatan dan fitnah hingga akhir masa… Dan barangsiapa merenungkan apa yang terjadi pada (umat) Islam dalam berbagai fitnah yang besar maupun yang kecil niscaya akan melihat bahwa penyebabnya adalah mengabaikan prinsip ini dan tidak sabar atas kemungkaran. Sehingga berusaha untuk menghilangkannya namun akhirnya justru muncul kemungkaran yang lebih besar darinya.” (I’lamul Muwaqqi’in juz 3, hal. 6)
4. Al-Imam Ath-Thiibi rahimahullah berkata: “Adapun memberontak dan memerangi para penguasa maka hukumnya haram sesuai dengan ijma’ kaum muslimin, walaupun mereka itu orang-orang yang fasiq dan dzalim. Ahlus Sunnah sepakat bahwa seorang penguasa tidak boleh digulingkan dengan sebab kefasiqannya, karena akan menimbulkan berbagai macam fitnah, tertumpahnya darah dan terjadinya perpecahan di antara kaum muslimin, maka kejelekan yang diakibatkan oleh pemberontakan tersebut lebih parah dari sebelumnya.”(Al-Kasyif An-Haqaiqis Sunan 7/181-182, dinukil dari Fataawal ‘Ulama Al-Akaabir hal. 31)
Para pembaca, demikianlah beberapa dalil naqli dan aqli seputar sikap yang benar terhadap para penguasa yang jahat dan dzalim. Tentunya para pembaca yang kritis dan sportif akan menilai dengan mudah bahwa segala macam pernyataan yang berafiliasi kepada paham Khawarij di dalam menyikapi para penguasa merupakan kebatilan. Demikian pula peledakan yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin yang mereka lakukan sebagai teror terhadap penguasa bukanlah bagian dari jihad yang syar’i, bahkan bertentangan dengan dalil-dalil naqli dan aqli, serta fitrah yang suci.

Untaian Fatwa
Para ulama dan para imam yang mulia memfatwakan keharusan berjihad bersama penguasa, walaupun ia seorang yang jahat dan dzalim.
 Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Berjihad bersama penguasa terus berlangsung hingga hari kiamat, terlepas apakah ia seorang penguasa yang baik atau jahat.”(Syarh Ushulil I’tiqad Lalikai, juz 1, hal.180)
 Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Aku telah bertemu dengan 1.000 orang lebih dari ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir….." kemudian beliau berkata: "Aku tidak melihat adanya perbedaan di antara mereka tentang perkara berikut ini: (Beliau sebutkan sekian perkara, di antaranya) kewajiban menaati penguasa (dalam hal yang ma’ruf).” (Syarh Ushulil I’tiqad Lalikai, 1/194-197)
 Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi dan Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahumallah berkata: “Kami telah menemui para ulama di seluruh negeri; Hijaz, Irak, Syam, dan Yaman, maka madzhab mereka adalah –beliau sebutkan beberapa perkara di antaranya–: Kita tegakkan jihad dan ibadah haji bersama para penguasa kaum muslimin di setiap masa dan jaman.”(Syarh Ushulil I’tiqad Lalikai, juz 1, hal. 199)
 Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidak menghapuskan kewajiban yang Allah wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang kamu kerjakan bersamanya mendapat pahala yang sempurna insya Allah, yakni kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jumat dan jihad bersama mereka, dan juga berperan sertalah bersamanya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpin olehnya).”(Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hal.14)
 Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari rahimahullah berkata: “Telah sepakat para ulama ahli fiqh, ilmu, dan ibadah, dan juga dari kalangan ‘ubbad (ahli ibadah) dan zuhhad (orang-orang zuhud) sejak generasi pertama umat ini hingga masa kita ini bahwa shalat Jum’at, Iedul Fithri dan Iedul Adha, hari-hari Mina dan Arafah, jihad, haji, dan penyembelihan qurban dilakukan bersama penguasa, yang baik ataupun yang jahat.”(Al-Ibanah, hal 276-281, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah hal. 16)
 Al-Imam Abu Ismail Ash-Shabuni rahimahullah berkata: “Ahlul hadits berpandangan (disyariatkannya) jihad melawan orang-orang kafir bersama penguasa walaupun mereka (para penguasa itu, red) orang-orang yang jahat.” (‘Aqidatus Salaf Ashhabil Hadits hal.106)
 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah: “Ahlus Sunnah Wal Jamaah berkeyakinan (disyariatkannya) melaksanakan haji, jihad, dan shalat Jum’at bersama para penguasa yang baik ataupun yang jahat.”

Penutup
Dari bahasan yang lalu dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa:
1. Jihad adalah amalan mulia yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
2. Jihad merupakan amalan yang bersifat kebersamaan, sehingga dibutuhkan suatu kepemimpinan.
3. Kepemimpinan yang syar’i dalam jihad fii sabilillah berada di tangan penguasa dan yang ditunjuk olehnya.
4. Bila penguasa mengumandangkan seruan jihad fii sabilillah, maka wajib bagi kaum muslimin untuk menaatinya walaupun ia penguasa yang jahat.
5. Yang demikian itu dikarenakan apa yang diperintahkan (dalam hal ini jihad) bukanlah suatu kemaksiatan. Lebih dari itu, menentangnya akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar.
6. Gerakan melawan penguasa muslim dengan berbagai macam bentuknya bukanlah bagian dari jihad yang syar’i. Bahkan termasuk perbuatan mungkar yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.
Maka dari itu, sudah seharusnya slogan “Jihad melawan penguasa” dibuang jauh-jauh dan diganti dengan “Jihad bersama penguasa.”
Wallahu a’lam bish-shawab.
»»  Baca Selengkapnya...
Salah kaprah dalam jihad, membikin bencana atas ummat
Penulis: Al Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin
Manhaj, 06 - Maret - 2005, 07:10:54

“Pokok pangkal dari urusan ini adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya yang tertinggi adalah jihad.” [Isyarat kepada hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari shahabat Mu’adz bin Jabal radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok pangkal dari semua urusan, tiangnya dan puncaknya yang tertinggi?” Aku berkata: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Pokok pangkal dari urusan ini adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya yang tertinggi adalah jihad.” (HR. At-Tirmidzi dan beliau mengatakan: “Hadits hasan shahih.”)]

Banyak manusia memandang amalan jihad tanpa dilandasi ilmu hingga menyebabkan banyak kekeliruan dan menambah peliknya persoalan. Yang paling parah adalah munculnya penyimpangan yang demikian jauh dari pengertian sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama.

Karena itu, banyak kita saksikan belakangan ini berbagai tindakan dan aksi tertentu yang langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan kerusakan di tengah masyarakat, namun oleh para pelakunya diklaim sebagai jihad. Padahal, Islam sama sekali tidak memerintahkan amalan tersebut.

Sebagai contoh kecil, sikap suka mengkritisi atau mendiskreditkan pemerintah di depan umum. Bagi para demonstran dari kalangan hizbiyyin, sikap kritis terhadap pemerintah merupakan “menu wajib” yang harus dimiliki. Jadilah demonstrasi yang di dalamnya menjadi ajang untuk mencaci maki pemerintah sebagai bagian dari perjuangan mereka yang tidak terlewatkan. Mereka akan menganggap orang-orang yang memiliki sikap berseberangan dengan mereka sebagai penjilat ataupun kaki tangan pemerintah.

Bahkan tak jarang mereka menganggap orang yang suka mendoakan kebaikan untuk pemerintah sebagai budak pemerintah.
Begitupun dengan amalan lain, seperti melakukan pengeboman terhadap tempat-tempat ibadah orang kafir, membunuh orang-orang kafir dengan bom bunuh diri ataupun merusak fasilitas-fasilitas orang asing yang ada (tanpa melihat hukum syar’i). Semua tindak kedzaliman ini mereka anggap sebagai jihad, yang tidak akan muncul sikap demikian bila mereka memahami makna jihad secara benar.

Definisi Jihad

Kata Al-Jihad (الْجِهاَدُ) dengan dikasrah huruf jim asalnya secara bahasa bermakna (الْمَشَقَّةُ) yang bermakna kesulitan, kesukaran, kepayahan.

Sedangkan secara syar’i bermakna: “Mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi orang-orang kafir atau musuh.” (Lihat Fathul Bari, 6/5; Nailul Authar, 7/208; Asy-Syarhul Mumti’, 8/7)

Berikut beberapa ucapan Ulama Salaf dalam memaknai Al-Jihad.
- Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma berkata: “(Jihad adalah) mencurahkan kemampuan padanya dan tidak takut karena Allah terhadap celaan orang yang suka mencela.”
- Muqatil rahimahullah berkata: “Beramallah kalian karena Allah dengan amalan yang sebenar-benarnya dan beribadahlah kepada-Nya dengan ibadah yang sebenar-benarnya.”
- Abdullah ibnul Mubarak rahimahullah berkata:“(Jihad adalah) melawan diri sendiri dan hawa nafsu.” (Zaadul Ma’ad, 3/8)
Dalam tinjauan syariat Islam (pengertian secara umum), jihad juga diistilahkan kepada mujahadatun nafs (jihad melawan diri sendiri), mujahadatusy syaithan (jihad melawan syaithan), mujahadatul kufar (jihad melawan orang-orang kafir) dan mujahadatul munafikin (jihad melawan kaum munafik).

Disyariatkannya Jihad dan hukumnya

Dalam permasalahan jihad, pada dasarnya manusia terbagi dalam dua keadaan:
1. Keadaan mereka pada masa kenabian
2. Keadaan mereka setelah kenabian

Masa Kenabian

Para ulama sepakat bahwa disyariatkannya jihad pertama kali ialah setelah hijrah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah. Setelah itu muncul perselisihan di antara mereka tentang hukumnya, fardhu ‘ain atau fardhu kifayah?

Di dalam Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ada dua pendapat yang masyhur di kalangan para ulama. (Pertama adalah pendapat dari) Al-Mawardi, dia berkata: “(Hukumnya) fardhu ‘ain bagi orang-orang Muhajirin saja, bukan selain mereka.” Pendapat ini dikuatkan dengan perkara tentang wajibnya hijrah atas setiap muslim ke Madinah dalam rangka menolong Islam. (Kemudian) As-Suhaili, dia berkata: “Fardhu ‘ain atas orang-orang Anshar saja, bukan selain mereka.” Pendapat ini dikuatkan dengan baiat para shahabat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada malam Al-Aqabah untuk melindungi dan menolong Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari dua pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain atas dua thaifah (kelompok, red. Yakni Muhajirin dan Anshar) dan fardhu kifayah atas selain mereka.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dan kalangan Asy-Syafi’iyyah sepaham dengannya lebih menguatkan pendapat yang menyatakan fardhu kifayah (bagi kalangan Muhajirin maupun Anshar-ed). Beliau berhujjah bahwa dalam peperangan yang terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ada para shahabat yang ikut dan ada pula yang tidak. Kemudian, walaupun jihad menjadi kewajiban atas orang-orang Muhajirin dan Anshar, namun kewajiban ini tidak secara mutlak.
Sebagian berpendapat, jihad (hukumnya) wajib ‘ain dalam peperangan yang di dalamnya ada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan bukan (wajib ‘ain) pada selainnya. Yang benar dalam hal ini ialah, jihad menjadi fardhu ‘ain bagi orang yang dipilih (ditunjuk) oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, walaupun ia tidak keluar ke medan tempur.

Masa setelah Kenabian

Pendapat yang masyhur di kalangan ahlul ilmi adalah fardhu kifayah, kecuali jika ada keadaan mendesak, seperti ada musuh yang datang dengan tiba-tiba. Ada pula yang berkata, fardhu ‘ain bagi yang ditunjuk oleh imam (penguasa). Sebagian juga berpendapat wajib selama memungkinkan, dan pendapat ini cukup kuat. Namun yang nampak dalam masalah ini adalah jihad terus-menerus berlangsung pada jaman kenabian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sampai sempurnanya perluasan (ekspansi) ke beberapa negara besar dan Islam menyebar di muka bumi, kemudian setelah itu hukumnya seperti yang telah dijelaskan di atas.

Kesimpulan dari masalah ini adalah, jihad melawan orang kafir menjadi kewajiban atas setiap muslim baik dengan tangan (kekuatan), lisan, harta atau dengan hatinya, wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/47; Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 13/12)
Berikut beberapa ayat dan hadits yang menjelaskan tentang disyariatkannya jihad.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

انْفِرُوا خِفَافاً وَثِقاَلاً وَجاَهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau berat. Dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah.” (At-Taubah: 41)

يآأَيُّهاَ النَّبِيُّ جاَهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُناَفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ
“Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (At-Taubah: 73)

وَجاَهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj: 78)

فَلاَ تُطِعِ الْكاَفِرِيْنَ وَجاَهِدْهُمْ بِهِ جِهاَداً كَبِيْراًً
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar.” (Al-Furqan: 52)

يآأَيُّهاَ النَّبِيُّ جاَهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُناَفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (At-Tahrim: 9)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata pada Yaumul Fath (Fathu Makkah): “Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, akan tetapi yang ada ialah jihad dan niat. Dan apabila kalian diminta untuk pergi atau berangkat berperang maka pergilah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Al-Hafidz rahimahullah berkata: “Pada hadits ini terdapat berita gembira bahwa kota Mekkah akan tetap menjadi negeri Islam selamanya. Di dalamnya juga terdapat dalil tentang fardhu ‘ainnya keluar dalam perang (jihad) bagi orang yang dipilih oleh imam.” (Fathul Bari, 6/49)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Apabila imam (penguasa) memerintahkan kepada kalian untuk berjihad, maka keluarlah. Hal ini menunjukkan bahwa jihad bukanlah fardhu ‘ain, akan tetapi fardhu kifayah. Apabila sebagian telah menunaikannya, gugurlah kewajiban yang lain. Dan jika tidak ada yang melakukannya sama sekali, berdosalah mereka. Dari kalangan Asy-Syafi’iyyah berpendapat tentang jihad di masa sekarang hukumnya fardhu kifayah, kecuali jika orang-orang kafir menyerang negeri kaum muslimin, maka jihad menjadi fardhu ‘ain atas mereka. Dan jika mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup, wajib bagi negeri yang bersebelahan untuk membantunya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 12/11-12)

Setelah diketahui bahwa pendapat yang masyhur di kalangan ahlul ilmi tentang hukum jihad pada masa setelah kenabian adalah fardhu kifayah, berikut adalah beberapa keadaan yang menjadikan hukum tersebut berubah menjadi fardhu ‘ain, di mana sebagiannya telah disebut di atas:
1. Apabila bertemu dengan musuh yang sedang menyerang. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا إِذاَ لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوا زَحْفاً فَلاَ تُوَلُّوْهُمُ اْلأَدْباَرَ. وَمَنْ يٌوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلاَّ مُتَحَرِّفاً لِقِتاَلٍ أَوْ مُتَحَيِّزاً إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بآءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya ialah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 15-16)

Ayat ini menjelaskan tentang tidak bolehnya seseorang mundur atau berpaling dari menghadapi musuh. Karena yang demikian termasuk perkara terlarang dan tergolong dalam perkara yang membawa kepada kehancuran/ kebinasaan sehingga wajib untuk dijauhi. Sebagaimana yang disebut dalam sebuah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran atau kebinasaan.” Para shahabat bertanya: “Apakah ketujuh perkara itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, membelot/ berpaling (desersi) dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina kepada wanita yang terjaga dari perbuatan dosa, tidak tahu-menahu dengannya (yakni dengan perbuatan zina tersebut-ed) dan (ia adalah wanita yang-ed) beriman kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dua hal yang diperbolehkan bagi seseorang untuk berpaling (mundur) ketika bertemu dengan musuh:
a. Berpaling dalam rangka mendatangkan kekuatan yang lebih besar atau siasat perang.
b. Berpaling dalam rangka menggabungkan diri dengan pasukan lain untuk menghimpun kekuatan.

2. Apabila negerinya dikepung oleh musuh. (Dalam keadaan ini) wajib atas penduduk negeri tersebut untuk mempertahankan negerinya. Keadaan ini serupa dengan orang yang berada di barisan peperangan. Sebab apabila musuh telah mengepung suatu negeri, tidak ada jalan lain bagi penduduknya kecuali untuk membela dan mempertahankannya. Dalam hal ini musuh juga akan menahan penduduk negeri tersebut untuk keluar dan mencegah masuknya bantuan baik berupa personil, makanan dan yang lainnya. Karena itu wajib atas penduduk negeri untuk berperang melawan musuh sebagai bentuk pembelaan terhadap negerinya.

3. Apabila diperintah oleh imam. Apabila seseorang diperintah oleh imam untuk berjihad, hendaknya ia mentaatinya. Imam dalam hal ini ialah pemimpin tertinggi negara dan tidak disyaratkan ia sebagai imam secara umum bagi kaum muslimin semuanya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا ماَ لَكُمْ إِذاَ قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيْلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيْتُمْ بِالْحَياَةِ الدُّنْياَ مِنَ اْلآخِرَةِ فَماَ مَتاَعُ الْحَياَةِ الدُّنْياَ فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيْلٌ. إِلاَّ تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَاباً أَلِيْماً وَيَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوْهُ شَيْئاً وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah’, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini di bandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan diganti-Nya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Taubah: 38-39)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha dan dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian diminta untuk berangkat berperang, maka berangkatlah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4. Apabila diperlukan atau dibutuhkan.
Misal dalam hal ini, kaum muslimin memiliki senjata berat seperti artileri, pesawat, atau teknologi tempur lainnya, namun tidak ada yang mampu mengoperasikannya kecuali seseorang. Maka menjadi fardhu ‘ain atas orang tersebut dengan sebab ia dibutuhkan.
Kesimpulan dari penjelasan di atas, jihad menjadi fardhu ‘ain pada empat perkara:
1. Apabila bertemu dengan musuh
2. Apabila negerinya dikepung musuh
3. Apabila diperintah oleh imam
4. Apabila diperlukan atau dibutuhkan

Pembagian Jihad

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah membagi jihad menjadi tiga:
Pertama
Jihadun Nafs, yaitu menundukkan jiwa dan menentangnya dalam bermaksiat kepada Allah. Berusaha menundukkan jiwa untuk selalu berada di atas ketaatan kepada Allah dan melawan seruan untuk bermaksiat kepada Allah. Jihad yang seperti ini tentunya akan terasa sangat berat bagi manusia, lebih-lebih saat mereka tinggal di lingkungan yang tidak baik. Karena lingkungan yang tidak baik akan melemahkan jiwa dan mengakibatkan manusia jatuh ke dalam perbuatan yang diharamkan Allah, juga meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya.

Kedua
Jihadul Munafiqin, yaitu melawan orang-orang munafiq dengan ilmu dan bukan dengan senjata. Karena orang-orang munafiq tidak diperangi dengan senjata. Para shahabat pernah meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membunuh orang-orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya, kemudian beliau bersabda: “Jangan, supaya tidak terjadi pembicaraan oleh orang, bahwa Muhammad membunuh sahabatnya.” (HR. Muslim, dari shahabat Jabir radhiallahu 'anhu)
Jihad melawan mereka adalah dengan ilmu. Oleh karena itu wajib atas kita semua untuk mempersenjatai diri dengan ilmu di hadapan orang-orang munafiq yang senantiasa mendatangkan syubhat terhadap agama Allah untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah. Jika pada diri manusia tidak ada ilmu, maka syubhat, syahwat, dan perkara bid’ah yang datang terus-menerus (akan bisa merusak dirinya), sementara ia tidak mampu menolak dan membantahnya.

Ketiga
Jihadul Kuffar, yaitu memerangi orang-orang kafir yang menentang, yang memerangi kaum muslimin, dan yang terang-terangan menyatakan kekafirannya, (dan jihad ini dilakukan) dengan senjata. (Asy-Syarhul Mumti’, 8/7-8)

Ibnul Qayyim rahimahullah membagi jihad menjadi empat bagian:
1. Jihadun Nafs (Jihad melawan diri sendiri)
2. Jihadusy Syaithan (Jihad melawan syaithan)
3. Jihadul Kuffar (Jihad melawan kaum kuffar)
4. Jihadul Munafiqin (Jihad menghadapi kaum munafiqin)

Setiap bagian di atas, masing-masing memiliki tingkatan-tingkatan. Jihadun Nafs memiliki empat tingkatan:
a. Berjihad melawan diri sendiri dengan cara mempelajari kebenaran dan agama yang hak, di mana tidak ada kebahagiaan dan kemenangan dunia dan akhirat kecuali dengannya, dan bila terluputkan darinya akan mengakibatkan sengsara.
b. Berjihad melawan diri sendiri dengan mengamalkan ilmu yang dipelajari. Karena jika hanya sekedar ilmu tanpa amal, akan memberi mudharat kepada jiwa atau tidak akan ada manfaat baginya.
c. Berjihad melawan diri sendiri dengan mendakwahkan ilmu yang telah dipelajari dan diamalkannya, mengajarkan kepada orang yang belum mengetahui. Jika tidak demikian, ia akan tergolong ke dalam orang-orang yang menyembunyikan petunjuk dan penjelasan yang telah Allah turunkan. Dan ilmunya tidaklah bermanfaat serta tidak menyelamatkannya dari adzab Allah Subhanahu wa Ta'ala.
d. Berjihad melawan diri sendiri dengan bersikap sabar ketika mendapatkan ujian dan cobaan, baik saat belajar agama, beramal dan berdakwah. Barangsiapa telah menyempurnakan empat tingkatan ini, ia akan tegolong orang-orang yang Rabbani (pendidik). Karena para ulama Salaf sepakat bahwa seorang alim tidak berhak diberi gelar sebagai ulama yang Rabbani, sampai ia mengetahui Al-Haq, mengamalkan serta mengajarkannya. Barangsiapa yang berilmu, mengamalkan dan mengajarkannya, ia akan diagungkan di hadapan para malaikat yang berada di langit.

Dalil yang menjelaskan tentang jihadun nafs ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Fudhalah bin ‘Ubaid, beliau bersabda bersabda:
“Yang disebut mujahid adalah orang yang berjihad melawan (menundukkan) dirinya sendiri di jalan Allah.” (HR. Ahmad dan yang lain, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab Ash-Shahihul Musnad (2/156) dan kitab Al-Jami’ Ash-Shahih (3/184).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Ketika jihad melawan musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berada di luar diri sendiri (syaithan, kaum kuffar, dan munafikin) merupakan cabang dari jihad seorang hamba untuk menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka jihadun nafs lebih diutamakan daripada jihad lainnya. Karena barangsiapa yang tidak mengawali dalam berjihad melawan diri sendiri dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, serta memerangi diri sendiri di jalan Allah, tidak mungkin baginya untuk dapat berjihad melawan musuh yang datang dari luar. Bagaimana dia mampu berjihad melawan musuh dari luar, sementara musuh yang datang dari dirinya sendiri dapat menguasai dan mengalahkannya?”

Jihadusy Syaithan, ada dua tingkatan:
a. Berjihad untuk menghalau segala sesuatu yang dilontarkan oleh syaithan kepada manusia berupa syubhat dan keraguan yang dapat membahayakan perkara iman.
b. Berjihad untuk menghalau segala apa yang dilemparkan syaithan berupa kehendak buruk dan syahwat. Dari dua tingkatan ini, untuk tingkatan pertama barangsiapa yang mampu mengerjakannya akan membuahkan keyakinan. Dan tingkatan yang kedua akan membuahkan kesabaran.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَجَعَلْناَ مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِناَ لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآياَتِناَ يُوْقِنُوْنَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimipin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat kami.” (As-Sajdah: 24)

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitakan bahwa kepemimpinan dalam agama hanya akan diperoleh dengan kesabaran dan keyakinan. Sabar akan menolak syahwat dan kehendak buruk, adapun keyakinan akan menolak keraguan dan syubhat.

Dalil yang menjelaskan tentang jihadusy syaithan, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

إِنَّ الشَّيْطاَنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ

“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya syaithan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Perintah Allah dalam ayat ini agar menjadikan syaithan sebagai musuh, menjadi peringatan akan adanya keharusan mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi syaithan, berjihad melawannya. Karena syaithan itu bagaikan musuh yang tidak mengenal putus asa, lesu, dan lemah dalam memerangi dan menggoda seorang hamba dalam selang beberapa nafas.” (Zaadul Ma’ad, 3/6)
Jihadul Kuffar wal Munafiqin ada empat tingkatan:
a. Berjihad dengan hati
b. Berjihad dengan lisan
c. Berjihad dengan harta
d. Berjihad dengan jiwa

Dalil yang menjelaskan tentang bagian ketiga dan keempat ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
يآأَيُّهاَ النَّبِيُّ جاَهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُناَفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ
“Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (At-Taubah: 73)
Jihad melawan kaum kuffar lebih dikhususkan dengan tangan (kekuatan), sedangkan melawan kaum munafiq lebih dikhususkan dengan lisan.
Bagian berikutnya, adalah jihad melawan kedzaliman, bid’ah, dan kemungkaran. Terdapat tiga tingkatan:
a. Berjihad dengan tangan apabila mampu, jika tidak maka berpindah kepada yang berikutnya
b. Berjihad dengan lisan, jika tidak mampu berpindah kepada yang berikutnya
c. Berjihad dengan hati

Dalil yang menjelaskan tentang bagian akhir ini adalah hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran hendaknya ia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hati. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari semua tingkatan dalam jihad yang tersebut di atas, terkumpullah tiga belas tingkatan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
“Barangsiapa yang meninggal dan belum berperang serta tidak pernah terbersit (cita-cita untuk berperang) dalam dirinya, (maka ia) meninggal di atas satu bagian dari nifaq.” (HR. Muslim)
Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, tidak sempurna jihad seseorang kecuali dengan hijrah. Dan tidak akan ada hijrah dan jihad kecuali dengan iman. Orang-orang yang mengharap rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, mereka adalah yang mampu menegakkan tiga hal tersebut, yaitu iman, hijrah, dan jihad.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولَئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَةَ اللهِ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharap rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 218)

Sebagaimana iman merupakan kewajiban atas setiap orang, maka wajib atasnya pula untuk melakukan dua hijrah pada setiap waktunya, yaitu hijrah kepada Allah dengan (amalan) tauhid, ikhlas, inabah, tawakkal, khauf, raja’, mahabbah dan hijrah kepada Rasul-Nya dengan (amalan) mutaba’ah, menjalankan perintahnya, membenarkan segala berita yang datang darinya, dan mengedepankan perkara dan berita yang datang dari beliau atas selainnya.

Manusia yang paling sempurna di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala ialah yang menyempurnakan seluruh tingkatan jihad di atas. Mereka berbeda-beda tingkatannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, sesuai dengan penempatan diri mereka terhadap tingkatan jihad tersebut. Oleh karena itu, manusia yang paling sempurna dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah penutup para Nabi dan Rasul, yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena beliau telah menyempurnakan seluruh tingkatan jihad yang ada dan beliau telah berjihad dengan jihad yang sebenar-benarnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melakukan jihad sejak awal diutus hingga wafatnya, baik dengan tangan, lisan dan hati serta hartanya. (Zaadul Ma’ad, 3/9-11)
Wallahu a’lam.

(Dikutip dari majalah Asy Syariah, Vol. I/No. 13/1426 H/2005, judul asli "Meluruskan Cara Pandang Terhadap Jihad, karya Al Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin - murid asy syaikh Muqbil rahimahullah -, url http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=245)
»»  Baca Selengkapnya...